Jumat, 18 Mei 2012

Mengapa manusia diberi akal dan pikiran?


Karena manusia itu bodoh dan lebih bodoh dari binatang.
Kenapa bisa seperti itu?
Karena Tuhan itu berada di angka nol (0).

11022012:01.00 
Anak Angger Gunawan Mahdi Hantoro
Tuhan dan manusia. Manusia itu cloning-cloning Tuhan yang berada di dunia. Tugas manusia adalah menjadi wakil Tuhan untuk memimpin dunia dan isinya. Hasilnya manusia diberikan akal dan pikiran yang lebih hebat dari makhluk yang lainya. Fungsi dari akal dan pikiran itu adalah untuk menjadi senjata manusia dalam mengerjakan tugasnya di dunia. Sebagai wakil Tuhan pencipta alam semesta tentunya manusia tidak akan diciptakan sebagai makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan kata lain, sifat dan karakter Tuhan itu pun tergambar pada diri setiap manusia.
Tuhan itu Maha Adil dari semua keadilan. Keadilan Tuhan dapat dianalogikan sebagai angka nol dari baris bilangan aritmatika. Entah bilangan apapun semua sama. Angka nol itu sebuah titik bebas dimana bila ditarik ke kiri maka akan menjadi bilangan negative dengan symbol minus (-). Tapi jika dari angka nol itu ditarik ke arah kanan maka akan menjadi bilangan positif dan diberi symbol plus (+).
Angka nol (0) itu netral sifatnya dan abadi tempatnya. Dalam sebuah perhitungan perkalian ataupun pembagian angka nol adalah angka yang istimewa. Dimana setiap angka jika dikalikan atau dibagikan nol maka jawaban yang muncul adalah nol sendiri. Ada yang menyebutkan bahwa angka nol itu adalah angka yang tak terdevinisikan saat dibagi oleh angka selain nol. Karena jawaban tidak akan ditemukan oleh rumus apapun. Kita tahu jika angka 1,2,3,… dst jika dikali 0 (nol) maka jawabanya adalah 0 (nol). Itu rumus perkalian, tapi jika dalam rumus pembagian sedikit berbeda. Angka 1,2,3,… dst jik dibagi 0 (nol) tidak bisa dijawab dengan angka 0 (nol). Karena hukum pembagian adalah hasil dari setiap pembagian jika dikalikan dengan angka pembagi maka akan didapatkan angka yang dibagi. Dan ini tidak berlaku dengan angka nol (0).
Contoh:
1 x 2 = 2. Ini jelas karena hukum yang berlaku menyebutkan hasil seperti itu. Dengan metode 1 + 1 = 2; atau 2 : 2 = 1.
Tapi jika 1 : 0 = ???? apakah bisa diisikan angka 0 atau 1?
Jika 2 : 1 = 2. Ini benar menurut hukum yang berlaku. Karena jika 2 x 1 atau 1 x 2 = 2.
Tapi untuk perhitungan 1 : 0 = ??? tidak akan dijawab 0. Karena jika 1 x 0 atau 0 x 1 = 0.
Atau dengan angka yang lain misalnya; 8 : 2 = 4. Dapat diartikan bahwa 4 x 2 atau 2 x 4 = 8.
Jika 8 : 0 = ??? tetap saja tidak bisa diisikan 0. Karena jika 0 x 0 ≠ 8.
Tuhan berada di angka nol (0) untuk sementara benar. Karena Tuhan itu bisa tergambar di karakter manusia, tapi manusia tidak akan pernah tergambar pada diri Tuhan. Analoginya adalah manusia itu seperti angka selain nol (0) sedangkan Tuhan itu angka nol (0) yang mutlak tempatnya. Dalam konteks ini arah pemikiranya adalah bahwa manusia itu tidak dapat menciptakan Tuhan degan cara apapun, tapi Tuhan sangat mudah untuk menciptakan manusia dengan segala cara.
Tuhan itu Maha Guru dari semua guru. Ilmu Tuhan itu tak terbatas dalam bentuk dan sumbernya. Hanya manusia sendiri yang memberikan batasan-batasan yang menciptakan semuanya seakan menjadi berbeda dan disebut sebagai sebuah keadilan. Sementara manusia lupa kalau semua yang ada di dunia ini baik yang tampak maupun yang tidak tampak itu adalah milik Tuhan. Itu semua wajar terjadi karena manusia itu memiliki akal dan pikiran. Dan karena manusia memiliki akal dan pikiran inilah manusia adalah makhluk yang paling bodoh di dunia.
Orang bijak akan sering menyebut kalau dirinya itu bodoh dan tidak tahu apa-apa saat ia ditanya sesuatu. Dan cenderung untuk lebih banyak diam daripada berbicara sesuatu yang belum pasti menurut pemikiranya. Berbeda dengan orang pintar yang pasti akan bicara saat ditanya atau bahkan tidak ditanya tentang sesuatu yang ia rasa tahu dari sesuatu itu. Berbalikan dengan orang cerdas yang akan diam dan melihat sesuatu yang mungkin akan bertolak belakang dengan sesuatu yang sedang dibicarakan saat itu. Salah satu contohnya adalah anak autis. Anak autis tidak akan langsung merespon stimulus yang diberikan kepadanya seketika itu. Karena mungkin ia merasa sesuatu itu bukan lah hal yang penting baginya. Ada yang lebih penting menurut pemikiranya saat itu. Sehingga perlu kekuatan tambahan untuk membuatnya merespon stimulus yang diberikan padanya.
Atau orang yang sedang dalam kondisi schizophrenia atau orang lazim menyebutnya gila total. Dalam keadaan itu sebenarnya dia sendiri adalah satu-satunya orang yang waras dan utuh dibandingkan yang lain. Justru dalam keadaan itu orang itu telah menempati titik nol dari sebuah lintasan kehidupan. Karena saat itu ia adalah titik kebenaran dan titik keadilan yang sebenarnya. Di saat itu ia tidak lagi terpengaruh oleh system masyarakat, system pemerintahan, dan system yang lain yang sedang berjalan di sekitarnya. Dan juga selain itu apa yang disampaikanya di dunia nyata ini tidak lagi ditutup-tutupi kebenaranya. Yang ia tahu adalah ia menemukan kehidupan nyata di setiap pandanganya. Bahkan ia tidak lagi membutuhkan makanan seperti orang lain. Begitu juga dengan tempat, pakaian, dan bermacam kebutuhan yang lain. Itu salah satu gambaran dari titik nol yang dimaksudkan disini.
Tuhan berada di titik nol dan karena itu Tuhan itu netral tidak berpihak pada siapapun di dunia ini. Akan sangat salah jika mengartikan setiap kebaikan itu datang dari Tuhan sedangkan keburukan itu datang dari setan atau iblis. Tuhan menciptakan segala sesuatu itu berpasangan bukan? Jadi Tuhan tidak mungkin akan berpihak pada satu hal saja karena itu akan berarti bahwa Tuhan sangat tidak adil pada ciptaan-Nya sendiri. Dan itu bukan sifat Tuhan. Lebih pantas hal itu adalah sifat manusia yang memiliki akal dan pikiran sehingga manusia itu bodoh dan sangat bodoh.
Sebuah cerita menyebutkan tentang pengusiran iblis dari surga karena pembangkangan terhadap Tuhan. Lalu jika dari cerita itu manusia menyebut setiap keburukan itu berasal dari iblis atau setan. Padahal Tuhan yang menciptakan segala sesuatau di dunia ini. Jadi keputusan yang menyebutkan keburukan itu berasal dari iblis dan setan tidak benarkah?
Iblis itu diceritakan sejak awal penciptaan sebagai imam dari para malaikat. Dan nama iblis itu adalah sebuah istilah bukan nama yang sebenarnya. Jika iblis dulunya adalah imam dari para malaikat apakah iblis itu buruk? Tidak mungkin sesuatu yang buruk itu bisa menjadi imam dari para malaikat. Sedangkan malaikat di dunia manusia sering disebut sebagai symbol dari kebaikan. Jika itu benar berarti di dunia ini hanya keburukan lah yang akan memimpin dunia bukan kebaikan. Coba dipikirkan kembali semua itu.
Jika manusia menilai Tuhan berpihak pada kebaikan saja dan tidak berpihak pada keburukan itu menandakan kalau manusia itu sangat bodoh. Pernahkah dengar tentang ajaran para nabi yang menyebutkan bahwa Tuhan akan berpihak pada kebaikan?
Kebaikan itu menang bukan karena Tuhan berpihak pada kebaikan. Tapi karena kebaikan itu yang akan membuat semuanya menjadi lancar dan terjaga. Dan disini tempat Tuhan itu di tengah-tengah bukan condong ke kanan ataupun ke kiri. Sesuatu yang benar itu pasti akan tetap menjadi benar. Angka nol (0) tetap angka nol (0) meski diapakan juga tidak akan berubah posisinya.
Dan sesungguhnya benar dan salah, baik dan buruk, positif dan negative itu semua adalah bahasa manusia. Sedangkan Tuhan tidak pernah membahasakan itu semua. Tuhan akan menjelaskan apa itu baik dan apa itu buruk. Tuhan memberikan banyak kebebasan untuk manusia khusunya untuk memilih sesuatu di dunia ini.
Contohnya: tentang pilihan untuk berbuat baik atau buruk seperti mencuri.
Jika Tuhan berpihak pada kebaikan yang dalam bahasa manusia menyebutkan bahwa mencuri itu buruk, maka pasti Tuhan akan menghentikan pencurian itu. Tapi faktanya banyak kasus pencurian yang berhasil dan sukses besar. Dan jika menggunakan sudut pandang keberpihakan, maka tentu saja dapat diartikan Tuhan berpihak pada pencuri itu.
Bagaimana itu?
Kembali pada titik nol (0). Tuhan berada disana di titik nol (0) bukan di angka 1,2,.. dst atau -1,-2,.. dst. Tuhan mengajarkan pada manusia tentang baik dan buruk tentunya. Tapi Tuhan tidak pernah mengajarkan di pihak mana akan berpihak. Bahasa manusia itu jauh berbeda dengan bahasa Tuhan. Itu sebabnya Tuhan berada di titik nol (0). Dalam kasus ini jika Tuhan berpihak pada kebaikan yang berarti mengecap buruk tindakan pencurian, maka mungkin Tuhan akan menghentikan aksi itu dengan berbagai cara dan sarana. Bukankah terlalu mudah Tuhan untuk menangani kasus seperti itu? Kematian manusia itu tidak ada harganya bagi Tuhan. Karena Tuhan akan sangat mudah menciptakan generasi manusia baru tanpa harus minta ijin kepada manusia terlebih dulu.

Tuhan mengajarkan dan menyerukan berbagai hal tentang kebaikan yang dapat diraih manusia. Tapi Tuhan juga menjelaskan keburukan yang sangat bisa dilakukan oleh manusia. Tuhan menyerukan hal kebaikan kepada semua orang yang percaya dan mau untuk menjadi baik bukan kepada orang yang tidak percaya dan tidak mau. Ini adalah satu kebenaran. Seruan Tuhan atau bisa dikatakan ilmu Tuhan itu untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Bukan semata-mata untuk orang-orang baik saja. Karena Tuhan melihat semua makhluk-Nya itu sama posisi dan tempatnya. Bukan karena orang itu baik dan bukan juga karena orang itu buruk atau jahat. Tapi semua sama dan semua mendapat nikmat kasih sayang Tuhan tanpa kecuali. Inilah bentuk nyata atas keadilan Tuhan.
Tuhan tidak pernah memaksa kepada makhluk ciptaan-Nya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Tapi Tuhan telah menjelaskan semua hal tentang semua itu melalui berbagai cara dan sarana. Nabi dan Rasul itu hanya sebagian kecil dari cara Tuhan menyampaikan ilmu-Nya kepada manusia. Tidak cukup Nabi dan Rasul saja untuk menyampaikan ilmu dari Tuhan. Karena semua itu tidak sebanding dengan keilmuan Tuhan. Tapi karena akal dan pikiran manusia justru semua itu seakan membuat ilmu Tuhan itu terasa sempit. Karena sudut pandang yang kurang tepat dalam melihat sesuatu yang ada di depan matanya. Sifat manusia yang cenderung terpengaruh oleh akal dan pikiranya sendiri lah yang membuat manusia itu menjadi semakin bodoh dan semakin rendah dibandingkan binatang.
Sebuah kajian ilmu Antropologi melalui seorang dosen UIN Sunan Kalijaga menyebutkan tentang kebenaran. Bahwa jika kita melihat sesuatu jangan melihat sebagai subyek, tapi cobalah untuk melihat sesuatu itu sebagai obyek atau sebagai sesuatu yang sedang kita lihat. Dengan cara itu lah kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan lagi apa yang seharusnya terjadi. Karena bahasa “yang seharusnya terjadi” itu adalah milik subyek bukan milik obyek.

1 komentar:

  1. wow menarik sekali, saya tertegun membacanya, seperti diingatkan kembali bahwa tuhan tidak berpihak pada apapun. dan ini sedikit menganjal fikiran saya, jadi untuk apa Tuhan menciptakan keburukan dan kebaikan? lalu untuk apa Dia ciptakan neraka dan surga ? jika tuhan tidak berpihak pada kebaikan, kenapa orang yang melakukan keburukan itu masuk neraka atau akan mendaptkan azab??,
    << terimaksih, mohon jawabannya>>

    BalasHapus